Kesehatan Mental Anak yang Sering Diabaikan oleh Sebagian Orang tua

Kesehatan Mental Anak
Ilustrasi. Doc: Pribadi

Sejak zaman bahari, para orang tua menganut paham otoriter dalam mengasuh anak-anak mereka. Anak-anak tidak boleh membantah, anak-anak tidak diijinkan memiliki privacy, anak-anak tidak bebas memiliki pilihan, anak-anak dikondisikan tidak memiliki hak apapun di rumah karena semua kehidupan seorang anak diberikan oleh orang tua mereka, bahkan anak-anak boleh diperlakukan sesuka hati dan tidak perlu dihargai oleh orang tua mereka.

Ketika anak-anak mengemukakan pendapatnya dengan sedikit 'ngotot', ketika anak-anak bersilang pendapat yang sama kerasnya dengan kedua orangnya, maka orang tua yang kolot merasa berhak menyakiti fisik anak-anak mereka dengan dalih mereka yang melahirkan, mereka yang memberi makan, mereka yang memberi tempat tinggal, kehidupan, serta pendidikan yang layak.

Dengan kuasa mereka, tanpa mereka sendiri sadari, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) telah terjadi di dalam rumah, mereka melakukan bullying kepada anak-anak, baik secara verbal maupun non verbal.

Anak-anak bukan hanya sakit secara fisik, tetapi sesuatu yang lebih berbahaya lagi telah terjadi di dalam diri mereka, yaitu batin mereka yang telah disakiti berulang-ulang membuat kesehatan jiwa mereka menjadi terganggu. Kesehatan mental mereka perlahan terkikis dan akhirnya rusak sama sekali.

Beberapa anak mungkin terlihat baik-baik saja, tumbuh sehat, tetap makan dengan baik, komunikasi dengan baik, kadang masih bisa tertawa dan bercanda di rumah, karena setiap anak memiliki respon yang berbeda terhadap penurunan kesehatan mental mereka, antara lain:

  • Krisis Percaya Diri
Beberapa anak mengalami rasa minder yang sangat parah, tidak mudah beradaptasi dan tidak tahu bagaimana caranya bergaul. Anak-anak tipe ini biasanya tidak berprestasi di sekolahnya dan terlebih dahulu selalu merasa tidak bisa melakukan apapun. Dia terlalu takut gagal dalam melakukan sesuatu sehingga merasa sangat cemas untuk memulai. Dia takut menjadi pusat perhatian yang aneh, dalam artian dia khawatir terlihat aneh di mata orang lain. Dia tidak mudah beradaptasi dan merasa tidak nyaman di tengah orang banyak.
  • Mencari Pelarian
Anak tipe ini biasanya tampak baik-baik saja, dimana prestasinya di sekolah yang cenderung terbelakang hanya dinilai sebagai anak yang memang bodoh dan malas belajar saja, karena anak tipe ini memang tidak memperlihatkan motivasi apapun juga dalam hidup. Dia menyembunyikan rasa mindernya dengan menunjukkan sikap masa bodoh, masih sering melontarkan candaan dan kadang menertawakan kebodohannya sendiri, padahal hatinya tetap berusaha mencari rasa nyaman di luar. Nah, ketika dia bertemu pergaulan yang tidak baik, dia pun akan mengikuti arusnya, apalagi jika dia sudah merasa nyaman. Dia lalu bisa terlibat pergaulan bebas, pergi dari rumah, cari kenyamanan di tempat lain, dan baru kembali ke rumah karena terpaksa, misalnya akibat terjadinya kehamilan dini, entah menghamili atau dihamili.
  • Memberontak
Biasanya anak tipe ini dianggap pemberontak dan pembangkang oleh orang tua mereka, tanpa si orang tua ini tadi menyadari bahwa jauh di lubuk hati sang anak, sedang bersemayam pula jiwa yang terluka. Dia menjadi moody, mudah tersinggung, dan langsung menunjukkan ketidak-sukaannya dengan cara berteriak, membanting pintu, dan merusak barang, tanpa berpikir lebih panjang lagi kalau hal itu bisa memicu pertengkaran yang lebih besar lagi dengan orang tuanya.
  • Tidak Menghargai Diri Sendiri
Ada beberapa anak di bawah pengasuhan orang tua yang tidak menghargainya, pada akhirnya menjadi sosok yang juga tidak menghargai dirinya sendiri. Dia merasa tidak disukai oleh semua orang, sehingga dia akan sangat lengket dan dekat dengan orang-orang yang dia pikir menyukai dia, meskipun dia bisa merasa tidak disukai lagi hanya karena hal-hal sederhana yang melukai harga dirinya. Penampilan luarnya bisa saja sosok yang terlihat tidak 'neko-neko', biasa saja, namun ternyata ada emosi dari dalam dirinya yang susah dia kendalikan, sehingga dia diam namun sering bersikap sinis dan berkata 'tajam' saat seseorang menyinggung harga dirinya itu. Kemudian, dia yang tidak berani melampiaskan emosinya keluar dari dirinya secara langsung, maka dia akan merasa puas hanya dengan menyakiti dirinya sendiri (Self Harm).

Respon Anak Down Mental
Ilustrasi. Doc: Pribadi

Itu adalah beberapa macam respon anak yang tanpa kita sadari terjadi di sekitar kita, akibat kita kurang aware terhadap kesehatan mental anak-anak.

Beberapa orang tua menyepelekan Self Harm dan menganggap bahwa itu sebagai bentuk 'caper'nya seorang anak remaja saja, sementara anak yang berani berteriak secara langsung kepada orang tuanya justru mendapat label 'kurang ajar'.

Bahkan beberapa orang tua merasa dirinya masih baik-baik saja meskipun pada zaman mereka dulu juga dididik dengan cara yang sama kerasnya dan secara terus terang menyatakan bahwa mereka belum pernah melihat anak yang sebegitu berani melawan dengan orang tua, sehingga tanpa sadar, dia mengulang pola itu kembali.

Dia memperlakukan anak-anaknya seperti orang tuanya dulu memperlakukan dia juga, agar anak-anak dapat tunduk seperti dia dahulu.

Hal itu berarti dia pun belum selesai dengan dirinya sendiri dan luka masa lalunya, hanya saja responnya tidak sama dengan anak-anaknya. Seperti yang sempat saya sampaikan di atas dimana respon setiap anak berbeda-beda ketika mereka mengalami masalah kesehatan mental.

Bagi orang tua tipe ini, mengalah terhadap anak-anaknya berarti kalah, sebagaimana dirinya yang dahulu juga harus selalu mengalah kepada orang tuanya demi terhindar dari pukulan.

Oleh karena itu, kalimat-kalimat bantahan dari anak-anak pun dianggap sangat melukai harga dirinya, sehingga dia merasa berhak mendidik dengan cara dia dulu dididik oleh orang tuanya, yaitu menghajar anak-anaknya mati-matian, dimana setelahnya masih merasa tersakiti dan masih harus menuntut permintaan maaf dari anak-anaknya.

Akhirnya kondisinya terbalik, yaitu korban dianggap sebagai pelaku, sementara pelaku bersikap seolah-olah menjadi korbannya, sehingga lingkungan beracun semacam inilah yang kemudian merusak mental anak-anak.

So Parents, mari kita lebih aware terhadap kesehatan mental anak-anak kita sendiri, terutama anak-anak yang memang sudah beranjak remaja ini, demi masa depan mereka yang lebih baik.


Komentar