![]() |
| Ilustrasi. Doc: Pribadi |
Sejak zaman bahari, para orang tua menganut paham otoriter dalam mengasuh anak-anak mereka. Anak-anak tidak boleh membantah, anak-anak tidak diijinkan memiliki privacy, anak-anak tidak bebas memiliki pilihan, anak-anak dikondisikan tidak memiliki hak apapun di rumah karena semua kehidupan seorang anak diberikan oleh orang tua mereka, bahkan anak-anak boleh diperlakukan sesuka hati dan tidak perlu dihargai oleh orang tua mereka.
Ketika anak-anak mengemukakan pendapatnya dengan sedikit 'ngotot', ketika anak-anak bersilang pendapat yang sama kerasnya dengan kedua orangnya, maka orang tua yang kolot merasa berhak menyakiti fisik anak-anak mereka dengan dalih mereka yang melahirkan, mereka yang memberi makan, mereka yang memberi tempat tinggal, kehidupan, serta pendidikan yang layak.
Dengan kuasa mereka, tanpa mereka sendiri sadari, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) telah terjadi di dalam rumah, mereka melakukan bullying kepada anak-anak, baik secara verbal maupun non verbal.
Anak-anak bukan hanya sakit secara fisik, tetapi sesuatu yang lebih berbahaya lagi telah terjadi di dalam diri mereka, yaitu batin mereka yang telah disakiti berulang-ulang membuat kesehatan jiwa mereka menjadi terganggu. Kesehatan mental mereka perlahan terkikis dan akhirnya rusak sama sekali.
Beberapa anak mungkin terlihat baik-baik saja, tumbuh sehat, tetap makan dengan baik, komunikasi dengan baik, kadang masih bisa tertawa dan bercanda di rumah, karena setiap anak memiliki respon yang berbeda terhadap penurunan kesehatan mental mereka, antara lain:
- Krisis Percaya Diri
- Mencari Pelarian
- Memberontak
- Tidak Menghargai Diri Sendiri
![]() |
| Ilustrasi. Doc: Pribadi |
Itu adalah beberapa macam respon anak yang tanpa kita sadari terjadi di sekitar kita, akibat kita kurang aware terhadap kesehatan mental anak-anak.
Beberapa orang tua menyepelekan Self Harm dan menganggap bahwa itu sebagai bentuk 'caper'nya seorang anak remaja saja, sementara anak yang berani berteriak secara langsung kepada orang tuanya justru mendapat label 'kurang ajar'.
Bahkan beberapa orang tua merasa dirinya masih baik-baik saja, meskipun pada zaman dahulu mereka juga dididik dengan cara yang sama kerasnya, sehingga tanpa sadar, dia mengulang pola itu kembali.
Dia memperlakukan anak-anaknya sama seperti orang tuanya dulu memperlakukan dia juga, demi membuat anak-anak dapat tunduk kepadanya.
Hal itu berarti dia pun belum selesai dengan dirinya sendiri dan luka masa lalunya, hanya saja responnya tidak sama dengan anak-anaknya. Seperti yang sempat saya sampaikan di atas dimana respon setiap anak berbeda-beda ketika mereka mengalami masalah kesehatan mental.
Bagi orang tua tipe ini, mengalah terhadap anak-anaknya berarti kalah, sebagaimana dirinya yang dahulu juga harus selalu mengalah kepada orang tuanya demi terhindar dari pukulan.
Oleh karena itu, kalimat-kalimat bantahan dari anak-anak pun dianggap sangat melukai harga dirinya, sehingga dia merasa berhak mendidik dengan cara dia dulu dididik oleh orang tuanya, yaitu menghajar anak-anaknya mati-matian sampai sang anak bersedia meminta maaf.
Sementara ada anak yang menganggap masalahnya sudah tuntas, karena dia toh sudah merasa sangat sakit akibat dipukul. Anak tersebut pun menolak untuk meminta maaf, sehingga orang tuanya langsung memberi label durhaka kepada anak itu.
Akhirnya kondisinya terbalik, yaitu korban dianggap sebagai pelaku, sementara pelaku bersikap seolah-olah menjadi korbannya. Lingkungan beracun semacam inilah yang kemudian dapat merusak mental anak-anak.
So Parents, mari kita lebih aware terhadap kesehatan mental anak-anak kita sendiri, terutama anak-anak yang memang sudah beranjak remaja ini, demi masa depan mereka yang jauh lebih baik.
Sesungguhnya tidak ada anak yang terlahir buruk, tetapi lingkungannya-lah yang membentuk mereka.


Komentar
Posting Komentar