Puspaga Harapan - Fasilitas Konseling Psikolog Gratis DP3A di Kota Balikpapan

Puspaga Harapan Balikpapan
Anak-anak harus sehat fisik maupun mental.

Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) bernama Harapan alias Puspaga Harapan yang lokasi pusatnya berada di belakang Gedung Disdukcapil Kota Balikpapan adalah fasilitas konseling kepada psikolog yang dibawahi oleh Unit layanan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).

Puspaga Harapan Kota Balikpapan ini menerima konseling untuk berbagai permasalahan mulai dari masalah rumah tangga seperti KDRT, perselingkuhan, proses cerai, maupun masalah anak-anak seperti anak berkebutuhan khusus, anak-anak yang punya masalah kepribadian maupun pergaulan, anak-anak yang punya masalah kepercayaan diri, anak remaja yang lagi masa puber, pola asuh, dan sebagainya.

Untuk menggunakan layanan Puspaga ini juga sangat mudah kok, tinggal mendaftar secara online, lalu menunggu konfirmasi kembali dari pihak puspaga untuk jadual konselingnya. Dan ini 100 persen gratis loh, Sai.

Sebenarnya beberapa tahun lalu aku sudah pernah berkunjung ke Puspaga ini untuk konsultasi mengenai anak bungsuku, tapi ketika itu aku menggunakan layanan puspaga yang berada di cabang Gunung Pasir yang lokasinya berada di dalam gedung dispustakar kota. Kebetulan Puspaga Harapan membuka layanan di dispustakar setiap bulan dua kali saja, setiap Hari Selasa pada minggu kedua dan minggu keempat.

Sayangnya sesi anak bungsuku tidak begitu intensif ketika itu. Mungkin karena si bungsu masih usia balita, sehingga lebih kepada konsultasi biasa antara aku dan psikolog-nya. Kala itu aku memang sedang kewalahan dalam menghadapi sikap impulsif si bungsu.

Nah, karena sudah terbiasa dengan puspaga di area dispustakar, harapanku setiap mendaftar konseling ke puspaga, maka aku akan terdaftar untuk datang ke gedung dispustakar, berhubung sebagai bagian dari tim Penulis Balikpapan, aku lebih familiar dengan gedung perpustakaan Kota Balikpapan itu.

Tapi ternyata, sekarang sistem dispustakar ada mencarikan client lokasi yang terdekat dengan alamat domisilinya, Guys, jadi biar berkali-kali aku mendaftar untuk konseling pun, aku tetap akan diarahkan atau dijadualkan ke Puspaga Harapan yang ada di disdukcapil karena dekat dengan rumahku. Lalu wilayah Balikpapan Kota akan diarahkan ke Puspaga Harapan yang ada di dispustakar. Kemudian aku diinfokan pula soal dispustakar yang berada di wilayah Balikpapan Utara.

Setelah browsing, lebih tepatnya ini, Parents, lokasinya:

  • Balikpapan Barat: Puskesmas Baru Tengah
  • Balikpapan Selatan: Gedung Bersama Disdukcapil (Kantor DP3AKB) & dekat Puskesmas Sepinggan
  • Balikpapan Utara: Kantor Kecamatan
  • Balikpapan Tengah: Kantor Kecamatan
  • Balikpapan Timur: Telah dibuka Unit PUSPAGA ke-VIII di Puskesmas Manggar Baru untuk melayani konsultasi dengan psikolog klinis
  • Balikpapan Kota: Layanan bantuan PUSPAGA dua minggu sekali di Dispustakar Kota Balikpapan

Yang paling akhir itu aku yang nambahi sendiri, Parents, sesuai pengalamanku menggunakan layanan di sana.

Pengalamanku Konseling di Puspaga Harapan

Seminggu yang lalu aku daftar online untuk mendapatkan layanan konseling dari Puspaga Harapan ini. Kali ini aku mendaftarkan si sulung yang sudah mulai menginjak usia remaja.

Masa puber membuat mood-nya mudah berubah-ubah, ditambah gaya tomboy-nya yang cukup mengganggu buat aku, gestur tubuhnya yang kaku, dan sikapnya yang kadang insecure.

Kami pun mendapat jadual tanggal 30 Desember 2025, pukul 11 siang, bertempat di layanan Puspaga Harapan Disdukcapil, untuk melakukan konseling.

Awalnya aku mikir, parkir mobilnya cukup banyak space nggak ya di sana, karena sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke disdukcapil. Seingatku terakhir aku ke sana adalah untuk mengunjungi loket BPJS perihal membayarkan beban BPJS yang masih terhutangkan oleh mantan suamiku sebesar 3,5 juta sebagai syarat mengeluarkan namanya dari keanggotaan BPJS kami. Saat itu kami menggunakan BPJS kelas 1 dengan anggota keluarga sebanyak 4 orang.

Ternyata begitu sampai di sana, parkirannya cukup luas dan banyak kok. Selain itu, Puspaga Harapan terletak di area parkir tersebut, sehingga kami tidak jauh jalan dari parkiran menuju tempat konseling.

Lokasi Puspaga Harapan
Layanan konseling anak dan keluarga.

Di Puspaga kami disambut dengan ruangan yang dingin, bersih (semua yang masuk melepaskan alas kakinya), ada arena playground anak balita, dan karena ketika itu sedang tidak ada yang mengantre, begitu masuk dan duduk sebentar, kami langsung mendapatkan pelayanan konseling yang sangat ramah. Kala itu kami dilayani langsung dengan psikolog Ika Puji Rahayu, S.Psi., M.Psi.

Sebagai ibunya, aku terlebih dahulu dipanggil oleh Beliau untuk melakukan konseling dimana aku dimintai informasi perihal karakter dan sikap anak gadisku itu dari sudut pandangku. Jadi Kak Ika ini ingin tahu dari aku terlebih dahulu tentang bagaimana sih cara aku 'memandang' (dalam artian: berpendapat tentang) si anak sulung ini.

Awalnya aku merasa cukup grogi karena tatapan si kakak psikolog ini cukup tajam, tapi Beliau memintaku untuk tetap relax seperti ngobrol biasa, akhirnya malah jadi curhat panjang kali lebar kali tinggi tentang si sulung, hihihiii.

Aku juga menceritakan kondisi dimana aku dan Daddy-nya sudah berpisah sejak si sulung ini masih berusia 5 tahun, sehingga kakak psikolog pun menanyakan perihal hubungan anak-anak dengan Daddy-nya.

Setelah sekitar 15 menit kami ngobrol, gantian putri sulungku lagi yang dipanggil untuk konseling, karena memang kan konseling ini untuk dia. Cukup deg-degan sih waktu si sulung masuk.

"Wah, kebongkar dah si emak yang suka bandingin, maksain kehendak, dan ngomel.", pikirku.

Padahal memang anak-anak sudah kupesan dari rumah sih, dimana kalau konseling, ceritakan saja dengan jujur apa yang mereka rasakan, apa yang mereka alami, dan sebagainya. Bahkan ponakkan cowokku yang kebetulan di sekolahnya ada ruang BK, aku suruh ke ruang BK sendiri kalau perlu curhat. Aku bilang ke dia kalau dia boleh cerita apapun di sana tanpa perlu dia tutup-tutupi. Kebetulan dua orang ponakkanku dibesarkan oleh orang tuaku, tanpa peran ayah dan ibunya sama sekali dalam pengasuhan mereka.

Emak yang berpesan, tapi tetap saja pas si anak masuk ruang konseling malah emaknya yang gugup, wkwkwkk.

Putri sulungku pun keluar sekitar 10 - 15 menit konseling berdua kakak psikolog. Setelah putriku keluar, gantian aku lagi yang masuk untuk diberikan pengarahan tentang kondisinya si anak.

Alhamdulillah anak perempuanku ini dinilai tidak mengalami masalah mental dan sebagainya karena dapat menjawab pertanyaan dengan lancar dan santai, sehingga yang harus diubah hanya cara pandangku dimana aku sebaiknya tidak mengusik zona nyamannya dia dengan cara memaksa, karena anakku sebenarnya cuma anti ribet, sedangkan aku sebagai ibu dari seorang anak perempuan memiliki ekspektasi yang cukup tinggi.

Ya begitulah ketika ibu yang ribet memiliki anak yang anti ribet. Anakku suka pakai celana gombrong plus baju kaos, rambutnya dipotong pendek hanya karena sekarang sekolahnya mengharuskan murid wanita yang berambut panjang untuk mengikat rambutnya, dia nggak suka menonjolkan diri, sedangkan maminya ini punya harapan agar si anak sulung jadi anak gadis yang feminin dan gila tampil.

Ketika harapan orang tua tak sebanding dengan apa yang anak-anak inginkan, maka sebagai orang yang duluan lahir ke dunia ini, hendaknya kita mengikuti arus anak-anak selama alirannya masih berada di dalam jalur yang semestinya.

Pendapat si Sulung Soal Konseling

Selesai sesi konseling kami sekitar 30 menitan, usai berpamitan, aku meminta anak-anakku untuk salim (anak-anak jaman now, terutama anak-anakku ini, memang agak kaku, Parents, jadi kalau maminya lupa minta mereka untuk salim, mereka tidak bakal ingat), kami pun keluar ruangan. Nurun dari maminya kali ya, karena aku pun orangnya cukup kaku, sehingga kadang hal-hal kecil tapi bermakna seperti itu juga aku lupakan sih.

Nah, di luar gedung Puspaga Harapan, aku kepo dong nanya-nanya pada putri sulungku.

"Gimana tadi sesi konselingnya?" tanyaku sambil melirik dan tersenyum.

"Menyenangkan bisa ngobrol." jawabnya dengan santuy.

Masalah anak-anak di masa puber ini memang beragam ya, Parents, tapi syukurnya anak sulungku ini memang sebenarnya cukup patuh sama aku, cuma ya kadang aku tidak paham alasan dia, seperti:

  • kenapa sih kamu tidak suka pakai rok?
  • kenapa kamu risih pakai rok sekolah yang pendek?
  • kenapa kamu tidak mau pakai dress?
  • kenapa kamu tidak mau tampil di panggung?
  • kenapa kamu tidak suka difoto?
  • kenapa kamu pilih-pilih bahan baju?
  • kenapa kamu tidak mau menonjol di sekolah?

Ternyata alasannya bukan karena insecure ya, Parents, walau mungkin ada juga sisi insecure dia sebagai anak yang masih masa peralihan dari anak-anak ke dunia remaja, tapi intinya dia tidak mau ribet dan ingin merasa nyaman sesuai versi dia saja.

Sebenarnya aku merasa masalah yang dialami oleh dua orang ponakkanku jauh lebih besar daripada apa yang anak-anakku alami, tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengajak mereka untuk pergi konseling, karena untuk melakukan konseling itu butuh kemauan dari si anak sendiri.

Pertolongan Pertama Mental
Jangan memendamnya sendiri jika kamu memang butuh bantuan.
Setelah ini aku bermaksud untuk mendaftarkan anak bungsuku pergi konseling lagi untuk mengatasi masalah konsentrasi dan fokusnya dia di sekolah serta kecemasannya yang menurutku berlebihan. Semoga kelak aku juga bisa membujuk para ponakkanku untuk ikut melakukan konseling demi kebaikan masa depan mereka.

Semangat mami-mami hebat dimanapun kita semua berada!

Daftar Puspaga Harapan yuks, Parents!


Komentar