![]() |
| Rumah dengan banyak kepala. |
Tinggal di rumah yang 'panas' tidak hanya membuat mental anak-anak menjadi buruk melainkan mentalku sebagai orang tua sekaligus anak di rumah tersebut berangsur menjadi buruk.
Sejak bercerai dari mantan suamiku 6 tahun yang lalu, aku dan kedua anakku tinggal kembali bersama orang tua dan kedua ponakkanku.
Perlu diketahui bahwa para ponakkanku tidak memiliki peran ayah maupun ibu sama sekali di rumah, hanya ada peran orang tuaku yang notabene merupakan kakek dan nenek mereka sepanjang hidup.
Bukan karena mereka ditinggal mati oleh orang tuanya, melainkan mereka adalah hasil pernikahan dan perceraian dini orang tua mereka, sehingga sejak bayi mereka sudah ikut dengan kedua orang tuaku, sementara kedua orang tuaku bukan tipe orang tua yang hangat, Guys, mereka sangat temperamen dalam menghadapi anak-anak yang masuk kategori 'durhaka' menurut anggapan mereka.
Perbedaan Generasi
Ponakkan laki-lakiku masuk Gen Z akhir, sementara ponakkan perempuanku masuk Gen Alpha awal sehingga keduanya adalah pasangan duet yang sempurna untuk membuat para lansia Gen Baby Boomer ini naik dari hampir setiap harinya.
Anak-anak Gen Z dan Gen Alpha ini sangat berbeda dengan anak-anak jaman milenialku dulu. Anak-anak jaman now lebih cerdas dan kritis daripada anak-anak jaman old yang tahunya hanya manggut-manggut ke ortu karena takut dihajar.
Mereka yang hidup di masa kini, pengetahuannya tentang kehidupan jauh lebih luas. Melalui satu alat teknologi yang bisa digenggam dan dibawa setiap saat, mereka banyak sekali melihat informasi di sana, jadi jangan kaget ketika orang tua mencubitnya sedikit saja, mereka bisa celetuk kecil, "tidak boleh jahat-jahat, nanti aku laporkan ke pak polisi loh biar ditangkap."
Anak sulungku sejak usia 9 tahun saja bisa berkata, "memang nasib jadi anak pertama ini, apa-apa disuruh ngalah, dimarahin terus, disalahkan terus!"
Padahal aku hanya memintanya untuk bersikap baik kepada adiknya yang berusia 4 tahun lebih muda darinya.
Itu karena dia pernah melihat video pendek yang berisi konten tentang 'tidak enaknya' menjadi anak pertama.
Anak bungsuku yang saat ini masih berusia 7 tahun saja, ketika aku melakukan protes soal telpon genggam yang dia mainkan sepanjang hari, dia dapat dengan santai berkata, "mami saja boleh."
Jaman aku dulu, jangankan berpikiran untuk menyela atau skakmat orang tuaku seperti itu, aku membantingi mereka pintu saja karena terlalu 'mumet' dengar omelan, ending-nya hanger bisa mendarat di tubuhku bersamaan dengan kalimat-kalimat menyakitkan yang tidak enak didengar, pokoknya disakiti secara verbal plus non verbal-lah.
Jadi anak milenial cenderung mengalah karena takut dihajar oleh orang tuanya. Takut dihajar dan patuh tentunya berbeda. Kalau patuh, besok dia tidak akan mengulanginya lagi, tapi kalau takut dihajar, biasanya besoknya lupa dan mengulangi kesalahan yang sama.
Generasi Baby Boomer dan Gen Alpha jenjangnya memang sangat jauh, agak susah untuk disatukan, walaupun ada banyak sekali oma-opa di dunia ini yang justru sayang dan memanjakan cucu-cucunya, tapi orang tuaku berbeda, dari dulu hingga kini, pola mereka tetap sama, anak-anak tidak punya hak bersuara, apalagi they are the Boss!
Istilahnya, "mau apa Lu?! Ini rumah juga rumah Gue, Lu masih minta makan sama Gue, semua barang Lu itu Gue yang ngasih, dari Lu bayi Gue yang ngurus, jadi jangan semena-mena Lu sama Gue!"
Bukan asal menduga, Parents, tapi memang kalimat-kalimat itulah yang sering kali keluar dari mulut mereka ketika mereka sedang marah dengan anak-anak di rumah.
Di dalam rumah, hanya anak-anakku yang bisa kuselamatkan dari pola asuh VOC ala mereka, karena mereka masih tahu batasan dimana anak-anakku ada ibu mereka yang lahirkan dan mengurus, sementara ponakkan-ponakkanku kebetulan memang sudah seperti anak mereka sendiri karena diasuh oleh mereka sejak masih bayi.
Ponakkan-ponakkanku menjadi cucu-cucu kesayangan mereka yang sekaligus harus menerima pula didikan otoriter yang turun temurun sejak jaman dulu. Kalau ada barang-barang bagus, mereka akan menomor satukan para ponakkanku itu dibandingkan anak-anakku, tapi kalau mereka marah kepada ponakkan-ponakkanku itu, mereka juga tidak segan menghajarnya seperti menghajarku dulu.
Sikap orang tuaku ini memang susah dipahami oleh anak-anak jaman now, karena mereka bebas melampiaskan amarah, sedangkan anak-anak bahkan tak memiliki hak untuk cemberut walau hatinya sedang tidak nyaman dan tidak bahagia.
Harus Ala VOC!
Pernah suatu ketika, sepulang dari mengantar jemput ponakkan perempuanku cosplay, mereka berantem hebat. Orang tuaku sudah lelah menunggu ponakkanku di sana, sedangkan ponakkanku masih mau main sampai malam.
Kebetulan lokasi cosplay-nya juga sepi, orang tuaku nggak sanggup untuk temani dia lama-lama, tapi juga tidak mau meninggalkan karena khawatir si ponakkan diganggu orang, padahal si ponakkan ini anaknya nekad, katanya dia bisa pulang naik ojol.
Ponakkanku ini kan perempuan dan sudah beranjak remaja. Jadi orang tuaku ini memaksanya ikut pulang daripada dia kenapa-kenapa karena ditinggalkan tanpa pengawasan, namun hal itu justru membuat si gadis merasa tidak senang hati. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, ia pun nangis-nangis di dalam mobil dan mengomel.
Orang tuaku seperti biasalah, ikut ngomel, bawel, dan sebagainya. Masih aman sebenarnya jika tidak dipancing. Tapi apa daya, yang satunya ibarat kail dan satunya lagi ikan. Si ponakkan ini banting-banting pintu dan barang di kamarnya, membuat hati orang tuaku sudah tidak senang.
Aku langsung berusaha menenangkan ponakkanku dari luar pintu (kebetulan pintu kamarnya dikunci dari dalam), aku minta supaya dia tidak memancing kemarahan orang tuaku, hanya saja si ponakkan tampaknya sudah berada di luar kontrol, karena tidak di-notice oleh mamiku (yang notabene juga dia panggil mami sejak bayi), dia malah sengaja memancing kemarahan yang lebih besar lagi.
PRANGGG!!!
Terdengar suara nyaring yang berasal dari kamarnya. Kedua orang tuaku langsung menduga kaca yang pecah. Seketika mereka naik ke lantai dua dengan penuh amarah, menggedor-gedor kamarnya, memaksanya membuka pintu kamar dan mengancam akan mendobrak kamarnya jika tidak dibukakan.
Begitu pintu dibuka, terdapat pemandangan yang membuat emosi mereka lebih memuncak lagi, yaitu cermin yang menjadi bagian dari lemari alumuniumnya dihantam oleh ponakkan perempuanku itu hingga hancur berkeping-keping.
Orang tuaku langsung menghajar ponakkanku tiada ampun, seperti biasa, andalan mereka sebagai alat pukul adalah 'gantungan baju' yang ada di dalam lemari. Aku tidak melihat secara langsung sih, cuma menduga saja karena dulu aku juga dipukulnya pakai hanger atau ikat pinggang. Aku lebih memilih mengamankan anak-anakku di dalam kamar saja, bukan karena takut dipukul juga, melainkan takut anak-anak ikut menyaksikan saja, lagipula ponakkanku pasti malu kalau banyak yang melihat.
Masih dalam kondisi pitam yang naik, bibir dan tangan yang sama-sama sinkron beraksi, tanpa sengaja mamiku melihat kalau telepon genggam ponakkanku sedang dalam kondisi menelpon. Menurut Beliau, ponakkanku memang suka sengaja membuat orang lain mendengar kegaduhan mereka. Jadi dengan emosi yang sudah naik hingga kepala, telpon genggamnya pun dihancurkan oleh mamiku sampai benar-benar tak berbentuk lagi dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Banyak hal yang memicu pertengkaran ini ya Parents, ada yang memancing dan ada yang dipancing. Aku serba salah jadinya, minta ponakkanku jangan memancing, eh dianya malah cari perkara, sementara orang tuaku tipikal yang EQ-nya sangat rendah.
Sayangnya kebanyakan orang tua hanya merasa berkuasa atas diri anak-anak yang lemah saja, karena di hadapan orang lain, ternyata mereka dapat berusaha mengendalikan emosi.
Aku sering sekali meminta pendapat pada AI chat mengenai hal ini, tapi apapun yang disarankan, agak susah untuk aku jalankan, karena baik orang tua maupun para keponakkanku merasa aku ini tidak berhak sama sekali.
Orang tuaku beranggapan bahwa, "kamu itu malah bikin kacau pengasuhan kami. Anak-anak jadi semakin durhaka karena kamu tukang belain mereka! Kami yang besarkan, jadi kami yang tahu harus bagaimana!"
Sementara para keponakkanku ketika aku melarang mereka atau memerintahkan mereka, mereka beranggapan seperti, "kamu itu bukan ibu kami, cuma tante ngapain melarang-melarang atau nyuruh-nyuruh."
Hanya saja, dengan curhat pada AI chat, paling tidak hatiku menjadi sedikit lebih tenang.
Saran Bunda Ani Rachman
Pada satu momen dimana ada sosialisasi hasil psikotes ponakkan laki-lakiku (SMP kelas 7) di sekolahannya, kebetulan 'rumah psikolog' milik Bunda Ani Rachman yang mengetes dan mengeluarkan hasil psikotes tersebut, sehingga pada momen sosialisasi, sekolah juga mendatangkan Bunda Ani Rachman secara langsung.
Seperti banyaknya psikolog lainnya, selain sosialisasi mengenai psikotesnya anak-anak, Bunda Ani juga menjelaskan mengenai pola asuh yang baik dan benar kepada anak-anak, apalagi anak usia remaja.
Sebenarnya aku ingin konsultasi lebih dalam sih dengan beliau mengenai kondisi rumah 'panas'-ku dan bagaimana cara mengasuh ponakkan-ponakkanku yang sudah mulai melenceng keluar jalur dengan kondisi mereka tanpa orang tua dan dibesarkan oleh lansia Baby Boomer, tapi ketika mendapat kesempatan bertanya, aku hanya bertanya perihal sesuatu yang umum saja, "bagaimana jika rumah tangga memiliki dua pola asuh?"
Aku juga menjelaskan secara garis besar saja kondisiku di rumah bersama anak-anak seperti apa. Aku tidak cerita soal ponakkan-ponakkanku karena bakal complicated dan butuh durasi waktu yang lebih banyak lagi.
Seperti yang sudah aku sampaikan bahwa aku terkesan membela para ponakkanku ketika aku mencegah orang tuaku untuk 'murka' kepada ponakkan-ponakkanku, padahal bagaimana aku tidak melarangnya secara langsung jika cara mereka mengatasi anak-anak adalah dengan 'mengamuk'? Iya kan? Heheheee ...
Sebenarnya aku sih tidak berperan langsung atas pengasuhan kedua orang ponakkanku ini meski aku adalah wali mereka di sekolah, tapi aku selalu ikut campur ketika orang tuaku mulai 'turun tangan' untuk mendisiplinkan para ponakkanku itu.
Maksudku bukan untuk mengacaukan pola asuh mereka, bukan pula untuk menjadi sok pahlawan di depan anak-anak itu, tapi bagaimana caraku diam melihat orang-orang temperamen memperlihatkan kuasa dan keahliannya dalam membuat anak-anak tunduk?
Pertanyaanku itu kemudian dijawab oleh Ibu Ani Rachman, "jika dalam satu rumah ada dua pola asuh, biarkan masing-masing orang tua dengan cara mengasuhnya, dimana kakek nenek dengan caranya sendiri dan orang tua pun dengan caranya sendiri. Biarkan saja kakek nenek yang terlebih dahulu melampiaskan, lalu ibu/bapak bagian yang melakukan pendekatan kepada anak setelah kakek dan nenek selesai marah, serta jangan pernah menyalahkan orang tua karena pola asuh jadul mereka."
Jawabannya bagus dan mungkin sangat membantu sebagian besar rumah tangga normal, tapi dengan pola pengasuhan VOC, bagaimana bisa melakukan pendekatan dengan anak-anak dan mengatakan bahwa 'wajar' saja kakek dan neneknya melakukan itu, sedangkan bertentangan dengan hatiku sendiri?
Sebenarnya aku ingin bertanya kembali, "apa jika orang tua melakukan pemukulan kepada anak-anak, aku juga harus menunggu sampai mereka puas melampiaskan emosi?"
Tapi seketika tertahan di kerongkonganku. Tidak mungkin juga aku terlalu blak-blakan secara langsung di hadapan public kan? Apalagi itu di lingkungan sekolah dimana terdapat banyak orang tua murid dan guru-guru.
Tetap Back to Laptop
Masalah besar keluarga yang seperti ini tentu tidak bisa juga sembarang aku beberkan dengan gamblang di lingkungan sekolah anak-anak kan? Aku khawatir terjadinya judgement tentang si anak maupun keluargaku.
Tapi akhirnya aku mencari cara tentang bagaimana agar ponakkan-ponakkanku terhindar konflik dengan orang tuaku. Keep sendiri saja informasi yang aku dapat dari sekolahnya, jangan terlalu banyak curhat kepada orang tua tentang para ponakkanku (mendingan curhat sama AI chat), serta tidak terlalu banyak mengatur ponselnya.
Kebetulan handphone-nya anak-anak dan para keponakkanku ter-link oleh aplikasi orang tua di ponselku sehingga aku bisa mengatur waktu bermain anak-anak dan membatasi akses mereka ke konten-konten dewasa. Tapi sayangnya para ponakkanku bukan tipe yang mudah diatasi olehku juga, dimana mereka sering meminta bahkan memaksa agar aksesnya dibuka, sedangkan jika tidak dikabulkan keinginannya, mereka bisa membuat hal-hal yang dapat memancing emosi kedua orang tuaku, contohnya ya prahara memecahkan kaca lemari itu tadi.
Demi kedamaian di rumah ini, aku terpaksa melonggarkan waktu bermain ponselnya para keponakkan.
Memang serba salah ya, Parents, kalau kondisinya seperti ini, ada yang 'memancing' dan ada pula yang 'terpancing'. Kadang malah membuatku ingin segera kabur saja dari rumah agar tidak menyaksikan orang yang sibuk 'pancing-pancingan'. Mending kalau mancing ikan kakap atau mancing cuan, lah ini mancing keributan dan selalu 'ikan besar' masuk kail yang sama. Terpancing!
Setiap rumah kondisinya memang berbeda-beda. Ada nggak pembaca di sini yang kondisinya sama dengan mami keceh??? Numpang di rumah orang tua dan pusing dengan keriwehan yang ada. Banyak kepala, banyak karakter, bikin kepala rasanya terputer-puter. Kalau ada, komen dan sharing ya di bawah!
.png)
Komentar
Posting Komentar