Demi Masa Depan - Anak Ngotot Tak Melulu Buruk

 

Parenting
Ilustrasi Ibu dan Anak.
Desain Foto: Pribadi

Sebagai anak milenial, aku dididik oleh kedua orang tuaku dengan keras. Dalam kamus mereka cuma ada peraturan bahwa anak-anak harus patuh, mengikuti apa yang mereka perintahkan, sehingga jika ada anak-anak yang membantah, langsung dilabeli sebagai anak pembangkang.

Demi membuat anak-anaknya patuh, orang tuaku tidak segan menghajarku mati-matian, mengurungku di dalam kamar mandi gelap, bahkan merusak barang-barang kesayanganku. Mereka merasa memiliki hak karena semua barangku juga dibeli menggunakan uang mereka.

Padahal, aku hanya akan menurut pada waktu mereka menghujaniku dengan kekerasan. Aku takut mereka pukuli, bukan berarti aku akan patuh dan sepemikiran dengan mereka. Esok harinya aku akan mengulangi hal yang sama dan mereka kembali menghajarku untuk membuatku melakukan apa yang mereka mau.

Sebenarnya sih bukan untuk mengikuti kemauan mereka juga. Hanya saja ketika mereka mengomel tanpa henti, kami sebagai anak-anaknya ini pun sama sekali tidak boleh protes, tidak boleh membantah, tidak boleh meminta mereka berhenti, sedangkan bukan hanya orang dewasa yang bisa merasa stres. Anak-anak terkadang juga punya beban pikiran.

Belum lagi kebiasaan buruk orang tuaku yang paling tidak aku sukai adalah mereka cerewet tanpa tahu tempat. Aku lagi makan diomeli, aku mau belajar mengomel, aku mencoba cuci piring dicibirin (dibilang airnya kemana-mana), aku lagi menonton tayangan pelajaran Bahasa Inggris dikomentari, dan sebagainya.

Mamiku adalah orang yang paling sering menghajarku. Andalannya adalah dulu beliau juga bakal dihajar oleh kakekku jika membangkang sepertiku. Mendiang kakekku dulu adalah seorang polisi, komandan airud pertama Kaltim-Kalsel, tidak heran jika tekanan pekerjaannya bisa membuat Beliau membawa masalahnya ke rumah. 

Sementara papaku adalah orang yang ceritanya sabar dan paling sayang aku, kata orang-orang di luar sana, padahal papa adalah orang yang selalu mengikuti frekuensi mami. Beliau hanya tahu memanjakanku dengan barang-barang atau mainan-mainan baru dan mahal, papaku dulu adalah seorang pengusaha, tapi beliau tidak pernah punya pendapat sendiri. Bagi beliau pendapat mamiku sudah pasti benar.

Masih aku ingat pada suatu hari di saat aku sudah duduk di bangku SMP, aku membantah kepada mamiku sehingga menyebabkan aku dihajar mati-matian olehnya. Setelah Beliau menghajarku habis-habisan, Beliau pergi ke ruang tamu rumah, ngambek, tidak mau ngapa-ngapain, dibujuk papaku tetap bergeming, sehingga papaku memaksaku untuk meminta maaf. Memaksa loh, bukan membujuk.

Aku menolak minta maaf, aku berkeras tidak mau menghampiri mamiku untuk sekedar berkata maaf. Dalam pikiranku saat itu, sudah impaslah, setelah membantah kan aku sudah dihajar setengah mati, tubuhku saja masih merasa sakit, kenapa pula aku yang harus meminta maaf?

Tapi penolakanku rupanya membuat papaku murka. Papa merasa mamiku terlalu menderita (meskipun aku yang disakiti). Jadi begini, mamiku kan sakit hati karena aku, sehingga menyebabkan aku dihajar olehnya sampai badanku sakit-sakit, cuma bagi papa sakit hatinya orang tua itu harus 'kau' sembuhkan, meski yang bisa menyembuhkan sakit hati itu ya diri sendiri.

Alhasil, papaku merasa mungkin aku belum cukup sakit dibandingkan sakit hatinya si emak ini tadi, ditambahilah oleh Beliau, dimana dengan emosinya Dia menendangku. Usiaku saat itu sudah 13 tahun, sudah duduk di bangku SMP, sudah aqil baliq, dan papaku masih tega menendangku?

Seketika 1000 kebaikannya langsung luntur di mataku, dan ingatan tentang masa kecilku di bawah asuhan VOC, masih membekas sampai sekarang.

Pernah suatu waktu di usia dewasaku ini, aku mengingatkan papa soal peristiwa itu, dan Dia lupa, sedangkan aku, walau sudah nyaris 30 tahun berlalu, aku masih ingat jelas peristiwa itu. Menyedihkan bukan? Hehehehe. Ingatan itu juga yang membuatku tidak ingin menorehkan kenangan buruk tentang aku di benak anak-anakku.

Tapi kenapa ketika itu mereka masih mempertanyakan tentang, "why did I grow up to be an insecure child?" ketika suatu hari sopir papaku melaporkan bahwa aku berdiri dengan tubuh gemetar menunggu dijemput sambil berpegangan pada pagar sekolah. Saat itu aku sudah duduk di kelas 1 SMP.

Tidakkah mereka sadar bahwa aku jadi begini karena mereka? Mereka terlalu dominan dalam hidupku. Aku tidak pernah didengarkan, aku tidak pernah punya pendapat, aku tidak punya hak untuk marah dan kesal, aku dipaksa mengerjakan kewajiban namun hak-hakku untuk berbicara diabaikan.

Aku tumbuh menjadi anak dengan tingkat percaya diri yang sangat rendah. Aku tidak bisa membuat keputusan sendiri, tidak tahu apa yang aku inginkan, aku selalu takut salah, dan sebagainya.

Pernah suatu hari aku ditunjuk untuk mewakili kelas melakukan fashion show, dimana sebenarnya aku ingin sekali melakukan itu, tapi aku tidak memiliki keberanian. Aku sembunyi di dalam kelas, menghalangi langkahku sendiri untuk maju, bahkan melampaui batas inginku. Jangankan itu, untuk bergaul dengan teman-teman sebayaku saja, aku sangat minder.

Menurut orang tuaku maupun orang-orang di sekitarku yang hanya mengetahui aku dari luar, aku ini anak yang sangat beruntung, disayang dan dimanjakan oleh orang tuaku, apa yang aku minta selalu diberikan oleh orang tuaku, kalau ke sekolah tas dibawakan oleh kokoku atas perintah papa, pas camping di sekolah malah kokoku juga disuruh mengendap-endap bawakan aku bantal dari gerbang belakang sekolah (berujung diusir oleh pemimpin pramuka), tapi sebenarnya aku punya dendam masa lalu yang sangat dalam.

Sering sekali short video yang mempertanyakan pilihan penonton antara sejumlah uang dengan kembali ke tahun 1990 lewat di berandaku, dan aku pasti akan dengan tegas mengatakan kalau aku akan memilih sejumlah uang. Aku tak peduli masih lengkapnya anggota keluarga atau apa di tahun segitu, yang jelas aku tidak ingin kembali ke masa-masa dimana aku menjadi remaja yang memiliki rasa rendah diri yang amat dalam.

Aku justru ingin balas dendam kepada masa laluku dengan cara punya anak, jadi sejak di sekolah menengah pertama itu aku juga sudah berencana punya beberapa anak, tapi bukan untuk balas dendam dengan cara melakukan hal yang sama, melainkan justru aku yang merasa menjadi orang gagal ini ingin agar anak-anakku tidak menjadi orang yang sama dengan aku.

Hal itu yang membuatku ketika pada akhirnya aku menjadi seorang ibu, aku berusaha untuk tidak menyentuh mereka menggunakan kekerasan meski hanya seujung kuku sekalipun. Aku hanya menyentuh mereka untuk merawat atau memeluk.

Anak-anakku bebas berbicara denganku, bebas bercanda denganku, aku juga berusaha mendengarkan mereka jika mereka berbicara atau memintaku untuk mendengarkan mereka.

Mereka juga boleh 'ngotot' kok, asal masih dalam batas sopan. Aku tidak melarang anak-anak buat 'ngotot' atau protes tentang aku, padahal anak-anakku yang Gen Alpha ini sangat kritis, kalau mereka sudah protes, nggak bakal berhenti sampai aku setuju. 

Pola asuh 'membebaskan anak ngotot' ini cukup efektif untuk membuat anakku sedikit berbeda dengan aku dulu. Terutama anak sulungku, karena si anak sulung ini yang betul-betul masa golden age - nya hanya berdua dengan aku di rumah (yaitu sejak lahir hingga usianya 4 tahun, kala itu ayahnya entah dimana, jarang pulang). Tujuanku membebaskan anakku bersikap di depanku ya memang agar dia menjadi anak yang 100 persen berbeda dari aku dulu.

Ada beberapa hal juga yang membuat si sulung insecure, tapi syukurnya tidak mempengaruhi sebagian besar kehidupannya seperti hidupku dulu. Dia masih bisa bergaul, mengutarakan keinginannya, mandiri, berkreasi, dan membuat keputusan.

Aku berpandangan kalau aku tidak mau menciptakan 'aku' kedua, karena tingkat insecure-ku dulu memang parah banget. Bahkan ketika aku sudah lulus SMA dan berkata kepada orang tuaku kalau aku ingin kuliah Sastra Indonesia di Bandung, dengan satu perkataan mamiku, aku sudah tidak berani memutuskan jalanku sendiri karena aku takut disalahkan oleh mereka jika kelak aku gagal. Aku tidak berani memutuskan karena takut gagal!

"Kalau cuma buat jadi penulis, tidak perlu ambil Sastra Indonesia, mending ambil Pariwisata, nanti kamu ... blablabla ..."

Mamiku punya rencana sendiri untuk perjalananku, hihihihiii. Jalan hidupku diputuskan oleh orang tuaku, judulnya.

Lulus kuliah yang sekedarnya itu, aku malah bekerja di perusahaan provider telekomunikasi dan di bank.

Ini juga jadi PR banget untuk anak keduaku. Kebetulan si bungsu ini pernah diagnosa sebagai anak dengan ADHD dimana dia punya sedikit masalah dengan analisa soal pelajaran dan masalah kecemasan, sehingga bisa dibilang anak keduaku ini juga tipikal yang insecure, alhamdulillah tidak separah aku dulu yang masih sebegitu parahnya hingga usia remaja.

Anak bungsuku masih bisa bermain dengan teman-temannya, hanya saja cenderung pemalu jika berhadapan dengan guru-gurunya. Dia juga masih kesulitan untuk bersikap di hadapan orang baru, dan cenderung penakut jika ditinggal sendiri atau pergi ke tempat sepi sendiri meskipun di dalam rumah saja.

Jangankan dengan orang baru, awal dia kenal dengan Daddy-nya saja, dia masih takut dan malu. Masih kuingat saat dia ulang tahun kedua dan si Daddy datang berkunjung, dia terus menatap ayahnya itu untuk mencoba kenal dan akrab. Maklum, aku dan mantan suamiku itu bercerai ketika si bungsu baru berusia 1 tahun dan dalam jeda setahun itu kami masih bersikap dingin satu sama lain.

Setelah bercerai, aku dan kedua anakku tinggal kembali bersama orang tuaku, sehingga sejak masih usia segitu pula si bungsu sudah menyaksikan teriakan dan amukan di rumah dalam rangka orang tuaku mengasuh kedua orang ponakkanku yang memang sudah ikut dengan mereka sejak bayi. 

Perlu dicatat juga ya, Parents, aku bercerai dengan mantan suamiku tanpa ribut-ribut atau berantem di hadapan anak-anak, dan setelah bercerai pun, saat situasi sudah mulai mencair, kami masih sempat bawa anak-anak kami jalan bersama. Tapi ya gimana, aku kan tidak 'berhak' meminta orang tuaku untuk 'berhenti' di rumah mereka sendiri. Penumpang menepi dulu.

Yang jelas, ini aku lagi mengasuh anak dengan pola asuh NGOTOT:

  • Ngotot protes
  • Ngotot berpendapat
  • Ngotot membuat keputusan
  • Ngotot berkompetisi
  • Ngotot menggapai keinginan

Hanya anak-anak 'ngotot' yang percaya dirinya dapat lebih terasah, sedangkan percaya diri adalah kunci bagi calon anak-anak sukses. - Annisa Tang -

Bismillah, jalan kami masih panjang. Tulisan ini juga tidak bermaksud apa-apa, hanya sharing tentang betapa aku dewasa dengan inner child.

Orang tuaku tidak jahat, hanya saja cara mereka membuatku punya luka yang susah untuk sembuh hingga kini.

Komentar